SANTRI AL MUMTAZ PINTAR NGAJI, ETOS KERJA TINGGI DAN BERPRESTASI!!

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas

Jumat, 26 Agustus 2016

My Trip My Adventure???

Sebagian kaum muslimin, mereka disibukkan dengan traveling keliling Indonesia atau bahkan dunia, mengunjungi tempat-tempat wisata, adventure ke gunung, pantai, danau atau tempat-tempat lainnya.
Setelah ke tempat A, kemudian berlanjut ke tempat B , begitu seterusnya. Kalau ada kesempatan, mereka pergi bertualang. Meskipun mungkin harus membayar sejumlah uang yang cukup banyak, atau mereka berlelah dalam itu semua. Mereka rela.
Indonesia (atau dunia) ini memang luas, banyak tempat-tempat indah, jadi sayang rasanya jika tidak sempat berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Baik itu untuk tujuan piknik, rihlah, mengagumi ciptaan Allah, bersenang-senang dan lainnya.
Namun, seandainya seseorang itu lebih sibuk untuk menuntut ilmu, belajar Al Quran dan Hadits, beramal sholeh dan perbuatan-perbuatan kebaikan lainnya, tentu itu jauh lebih utama baginya.
Allah berfirman,
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Berlomba-lombalah kamu (mengerjakan amal kebaikan) untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kamu dan (untuk mendapatkan) Surga yang luasnya seluas langit dan bumi” (QS. Al Hadid : 21).
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi pernah bercerita mengenai Penduduk Surga yang paling terakhir masuk Surga, dan ia merupakan penduduk Surga yang paling rendah derajatnya ,
Allah berfirman kepadanya (setelah ia keluar dari neraka), “Pergilah engkau dan masuklah surga, karena untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya”.
Ya, balasan paling rendah di akhirat kelak adalah Surga yang luasnya seperti bumi dan 10 kali lipat dari bumi kita sekarang. Bayangkan, betapa luasnya? Padahal ini adalah derajat terendah.
Maka akan lebih baik jika seseorang lebih banyak beramal shalih untuk mendapatkan Surga daripada disibukkan dengan travelling, adventure dan semisalnya.
Kelak jika seandainya ia masuk Surga, ia bisa ber-travelling, ber-adventure sepuasnya di surga-Nya yang amat sangat luas itu.
Tidak ada larangan untuk ber-travelling, adventure, namun hendaknya seorang Muslim lebih banyak mempersiapkan, memperluas surga tempat kembalinya kelak dengan beramal sholeh.
Surga lebih indah, lebih luas daripada dunia sekarang. Tentunya travelling, adventure di sana akan lebih indah , lebih puas, tanpa bayar, tanpa lelah dan lebih-lebih lainnya bukan?
Ndak ada ruginya kalo tidak sempat travelling di dunia. Di Surga kelak, dengan luasnya yang amat sangat, kesempatan itu akan dapat diperoleh.
Lagipula, bukankah Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan? Bukan berlomba-lomba untuk banyak-banyakan trip, adventure, kulineran , demi kesenangan kita semata?

Rabu, 24 Agustus 2016

Mari Gabung Kapling Syurga dan Bertaawun!




🔘➖
بسم الله الرحمن الرحيم
Wakaf termasuk amal ibadah Jariyah yang paling mulia bagi kaum muslim. Pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun pewakaf telah meninggal dunia. Bertambah banyak orang yang memanfaatkannya, bertambah pula pahalanya; terlebih bila wakaf ini untuk kepentingan pendidikan dinul Islam semua akan dipetik oleh pekawakafnya besok pada hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran:92].
Dari Abu Hurairah Radiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Sehubungan dengan rencana pembebasan lahan untuk perluasan pondok pesantren Al Mumtaz  tak lupa Kami memberi kesempatan kepada kaum Muslimin para pemerhati kebaikan guna berpartisipasi dalam kebaikan yang mulia ini untuk Ber-Ta'awwun (Tolong menolong diatas kebaikan dan ketaqwaan) dengan jalur  Kapling Syurga (wakaf). Adapun rincian harga Rp. 36.000/m2. Dengan luas tanah 1730m2.
Bagi kaum muslimin yang ingin ber Wakaf, dananya bisa disalurkan melalui rekening Bank:
BRI   6983-01-000218-50-2 a.n. Panti Asuhan Amalunnajaah
Atau datang langsung ke tempat kami di : Jl. Yogya-Wonosari KM 25 Kerjan, Beji Patuk, Gunungkidul,  Yogyakarta 55862
Konfirmasi setelah transfer:
Arifin, S.H.I   081996132852
Nur Zaeni       085101474309


Penanggung Jawab Wakaf:  Arifin, S.H.I
Semoga Allah memberkati harta-harta kaum muslimin dalam kebaikan




Mari Gabung Kapling Surga dan Bertaawun!




بسم الله الرحمن الرحيم
Wakaf termasuk amal ibadah Jariyah yang paling mulia bagi kaum muslim. Pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun pewakaf telah meninggal dunia. Bertambah banyak orang yang memanfaatkannya, bertambah pula pahalanya; terlebih bila wakaf ini untuk kepentingan pendidikan dinul Islam semua akan dipetik oleh pekawakafnya besok pada hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran:92].
Dari Abu Hurairah Radiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Sehubungan dengan rencana pembebasan lahan untuk perluasan pondok pesantren Al Mumtaz  tak lupa Kami memberi kesempatan kepada kaum Muslimin para pemerhati kebaikan guna berpartisipasi dalam kebaikan yang mulia ini untuk Ber-Ta'awwun (Tolong menolong diatas kebaikan dan ketaqwaan) dengan jalur  Kapling Syurga (wakaf). Adapun rincian harga Rp. 36.000/m2. Dengan luas tanah 1730m2.
Bagi kaum muslimin yang ingin ber Wakaf, dananya bisa disalurkan melalui rekening Bank:
BRI   6983-01-000218-50-2 a.n. Panti Asuhan Amalunnajaah
Atau datang langsung ke tempat kami di : Jl. Yogya-Wonosari KM 25 Kerjan, Beji Patuk, Gunungkidul,  Yogyakarta 55862
Konfirmasi setelah transfer:
Arifin, S.H.I   081996132852
Nur Zaeni       085101474309


Penanggung Jawab Wakaf:  Arifin, S.H.I
Semoga Allah memberkati harta-harta kaum muslimin dalam kebaikan







Selasa, 02 Agustus 2016

Sebuah Puisi Tuk Bundaku Negeri Merah Putih




PERTIWI TERTUTUP
                                                                    Saeful  Junaedi (MA PLUS AL MUMTAZ)
Ketika buana penghuninya tersimpuh
Ketika pertiwi merintih dan tersedu
Ketika insan saling berseteru
Maka tibalah saat tak menentu
                      Datanglah azab yang petdih
                      Ketika pertiwi merintih dan menangisi
                      Ketika insan tak menyadari
                      Bahwa lingkungan telah ternodai
Pertiwi ku kini......
Merintih, menutup, dan menangisi
Seribu gejolak menampar diri
Terseret arus globalisasi
                     Langit menindihkan kabut untuk pertiwi
                     Saat rahmat dicabut sang ilahi
                    Apakah ulah tetangga negeri
                   Ataukah peribumi yang merepotasi
Paru-paruku ditelan api,
Udarapun ternodai
Manusia tertusuk alam diri
Saat kabut asap merajai...
                      Yaa Robbi...
                      Lenyapkanlah azab ini....   
                      Dari pertiwi kami...
                      Sungguh kami akan kembali..
Bibirku membungkam dibungkam firman-Mu...                

Senin, 01 Agustus 2016

Penggalangan Dana Masjid Baitu Alim Suherman Ponpes Al Mumtaz



Masjid baitu Alim Suherman al Mumtaz di bangun pada tahun 2013 dengan luas  225 m2 yang mana masjid tersebut adalah pusat peribadatan seluruh santri ponpes terpadu al Mumtaz, dulu saat awal-awal masjid tersebut  dijadikan ruang kelas juga untuk adik-adik siswa MA Plus al Mumtaz, maklum dulu  pondok kami masih keterbatasan tempat dan saranaa prasarana.
Dan lamban tahun tahun jumlah santripun semakin bertambah, bahkan sekarang jumlah santri sudah mencapai 400 orang santri. Bayangkan betapa supeknya suasana dimasjid yang seluas 225 m2 dengan jumlah jamaah lebih dari 400 orang.
Oleh karena itu kami pun berkeinginan untuk memperluas serambi masjid tersebut dan alhamdulillah sudah mulai pembangunan sejak 30 Maret 2016. Namun karena keterbatasan biaya sehingga pembangunan pun terhenti hingga sekarang ini.
Oleh karena itu, kami mengajak saudara-saudaraku yang dermawan untuk turut berpastisipasi dalam pembangunan masjid kami, Dengan melakukan wakaf tunai.


Monggo disimak penjelasan sedikit tentang infaq berikut ini :
infaq atau amal Jariyah termasuk amal ibadah yang paling mulia bagi kaum muslim, yaitu berupa membelanjakan  harta benda. Dianggap mulia, karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika orang tersebut masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun orang tersebut telah meninggal dunia. Bertambah banyak orang yang memanfaatkannya, bertambah pula pahalanya; terlebih bila yang memanfaatkan ini orang yang berilmu dinul Islam, ahli ibadah menurut Sunnah dan ahli da’wah Salafiyah, tentunya akan lebih bermanfaat lagi . Ini semua akan dipetik oleh orang tersebut  besok pada hari kiamat.
Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang itu berkata kepadanya: ”Saya kehabisan bekal dalam perjalananku ini, maka antarkan aku ke tempat tujuan?” Beliau menjawab,”Saya tidak punya kendaraan,” lalu ada seorang laki-laki yang berkata,”Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tunjukkan orang yang dapat mengantarkan dia,” lalu Beliau bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].
Bayangkan, orang yang menunjukkan kebaikan, yang modalnya hanya berupa lisan atau tenaga, dijamin akan mendapatkan pahala semisal orang yang mengerjakannya. Maka, bagaimana dengan orang yang menunjukkan kebaikan disertai harta bendanya? Bukankah lebih utama dan lebih banyak pahalanya? Tentunya ini hanya dapat diterima dan diamalkan oleh orang yang kuat imannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berharap pahalaNya besok pada hari pembalsan. Misalnya, sahabat Thalhah Radhiyallahu ‘anhu tatkala mendengar ayat :
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran:92].